karakteristik anak berkebutuhan khusus
Karakteristik Anak Tunanetra
Anak tunanetra adalah anak-anak
yang mengalami kelainan atau
gangguan fungsi penglihatan, yang
dinyatakan dengan tingkat ketajaman
penglihatan atau visus sentralis di
atas 20/200 dan secara pedagogis
membutuhkan layanan pendidikan
khusus dalam belajarnya di sekolah.
Beberapa karakteristik anak-anak
tunanetra adalah:
1. Segi Fisik
Secara fisik anak-anak tunanetra,
nampak sekali adanya kelainan pada
organ penglihatan/mata, yang secara
nyata dapat dibedakan dengan anakanak normal pada umumnya hal ini terlihat
dalam aktivitas mobilitas dan
respon motorik yang merupakan umpan
balik dari stimuli visual.
2.Segi Motorik
Hilangnya indera penglihatan
sebenarnya tidak berpengaruh secara
langsung terhadap keadaan motorik
anak tunanetra, tetapi dengan hilangnya
4-2
Unit 4 pengalaman visual menyebabkan tunanetra kurang mampu melakukan
orientasi lingkungan. Sehingga
tidak seperti anak-anak normal, anak
tunanetra harus belajar bagaimana
berjalan dengan aman dan efisien dalam
suatu lingkungan dengan berbagai
keterampilan orientasi dan mobilitas.
3.Perilaku
Kondisi tunanetra tidak secara langsung menimbulkan masalah atau
penyimpangan perilaku pada diri
anak, meskipun demikian hal tersebut
berpengaruh pada perilakunya.
Anak tunanetra sering menunjukkan
perilaku stereotip, sehingga
menunjukkan perilaku yang tidak semestinya.
Manifestasi perilaku tersebut dapat
berupa sering menekan matanya,
membuat suara dengan jarinya,
menggoyang-goyangkan kepala dan badan,
atau berputar-putar. Ada beberapa
teori yang mengungkap mengapa
tunanetra kadang-kadang
mengembangkan perilaku stereotipnya. Hal itu
terjadi mungkin sebagai akibat dari
tidak adanya rangsangan sensoris,
terbatasnya aktifitas dan gerak di
dalam lingkungan, serta keterbatasan
sosial. Untuk mengurangi atau menghilangkan perilaku
tersebut dengan
membantu mereka memperbanyak
aktifitas, atau dengan mempergunakan
strategi perilaku tertentu, seperti
memberikan pujian atau alternatif
pengajaran, perilaku yang lebih
positif, dan sebagainya.
4.Akademik
Secara umum kemampuan akademik,
anak-anak tunanetra sama seperti
anak-anak normal pada umumnya.
Keadaan ketunanetraan berpengaruh
pada perkembangan keterampilan
akademis, khususnya dalam bidang
membaca dan menulis. Dengan kondisi
yang demikian maka tunanetra
mempergunakan berbagai alternatif
media atau alat untuk membaca dan
menulis, sesuai dengan kebutuhannya
masing-masing. Mereka mungkin
mempergunakan huruf braille atau
huruf cetak dengan berbagai alternatif
ukuran. Dengan asesmen dan
pembelajaran yang sesuai, tunanetra dapat
mengembangkan kemampuan membaca dan
menulisnya seperti temanteman lainnya yang dapat melihat.
5.Pribadi dan Sosial
Mengingat tunanetra mempunyai
keterbatasan dalam belajar melalui
pengamatan dan menirukan, maka
anak tunananetra sering mempunyai
kesulitan dalam melakukan perilaku
sosial yang benar.
Sebagai akibat dari
ketunanetraannya yang berpengaruh terhadap
keterampilan sosial, anak
tunanetra perlu mendapatkan latihan
langsung
dalam bidang pengembangan
persahabatan, menjaga kontak mata atau
orientasi wajah, penampilan postur
tubuh yang baik, mempergunakan
gerakan tubuh dan ekspresi
wajah, mempergunakan intonasi suara atau
wicara dalam mengekspresikan
perasaan, menyampaikan pesan yang tepat
pada waktu melakukan komunikasi.
Penglihatan memungkinkan kita untuk
bergerak dengan leluasa dalam suatu
lingkungan, tetapi tunanetra
mempunyai keterbatasan dalam melakukan
Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus 4-3 gerakan tersebut. Keterbatasan
tersebut mengakibatkan keterbatasan dalam
memperoleh pengalaman dan juga
berpengaruh pada hubungan sosial. Dari
keadaan tersebut mengakibatkan
tunanetra lebih terlihat memiliki sikap:
• Curiga yang berlebihan pada orang
lain, ini disebabkan oleh
kekurangmampuannya dalam
berorientasi terhadap lingkungannya
• Mudah tersinggung. Akibat
pengalaman-pengalaman yang kurang
menyenangkan atau mengecewakan yang
sering dialami, menjadikan
anak-anak tunanetra mudah
tersinggung.
• Ketergantungan pada orang lain.
Anak-anak tunanetra umumnya
memilki sikap ketergantungan yang
kuat pada oranglain dalam aktivitas
kehidupan sehari-hari. Kondisi yang
demikian umumnya wajar terjadi
pada anak-anak tunanetra berkenaan
dengan keterbatasan yang ada pada
dirinya
Karakteristik Anak Tunarungu
Tunarungu adalah istilah yang
menunjuk pada kondisi ketidakfungsian
organ pendengaran atau telinga
seseorang anak. Kondisi ini menyebabkan
mereka memiliki karakteristik yang
khas, berbeda dari anak-anak normal
pada umumnya. Beberapa
karakteristik anak tunarungu, diantaranya adalah:
1. Segi Fisik
• Cara berjalannya kaku dan agak
membungkuk. Akibat terjadinya
permasalahan pada organ
keseimbangan pada telinga, menyebabkan
anak-anak tunarungu mengalami
kekurangseimbangan dalam aktivitas
fisiknya.
• Pernapasannya pendek, dan tidak
teratur. Anak-anak tunarungu tidak
pernah mendengarkan suara-suara
dalam kehidupan sehari-hari,
bagaimana bersuara atau mengucapkan
kata-kata dengan intonasi yang
baik, sehingga mereka juga tidak
terbiasa mengatur pernapasannya
dengan baik, khususnya dalam
berbicara.
• Cara melihatnya agak beringas.
Penglihatan merupakan salah satu indra
yang paling dominan bagi anak-anak
penyandang tunarungu, dimana
4-4
Unit 4 sebagian besar pengalamanannya diperoleh melalui penglihatan.
Oleh
karena itu anak-anak tunarungu juga
dikenal sebagai anak visual,
sehingga cara melihatpun selalu
menunjukkan keingintahuan yang besar
dan terlihat beringas.
2. Segi Bahasa
• Miskin akan kosa kata
• Sulit mengartikan kata-kata yang
mengandung ungkapan, atau
idiomatic
• Tatabahasanya kurang teratur
3. Intelektual
• Kemampuan intelektualnya normal.
Pada dasarnya anak-anak
tunarungu tidak mengalami
permasalahan dalam segi intelektual.
Namun akibat keterbatasan dalam
berkomunikasi dan berbahasa,
perkembangan intelektual menjadi
lamban
• Perkembangan akademiknya lamban
akibat keterbatasan bahasa.
Seiring terjadinya kelambanan dalam
perkembangan intelektualnya
akibat adanya hambatan dalam
berkomunikasi, maka dalam segi
akademiknya juga mengalami
keterlambatan.
4. Sosial-emosional
• Sering merasa curiga dan syak
wasangka. Sikap seperti ini terjadi akibat
adanya kelainan fungsi
pendengarannya. Mereka tidak dapat memahami
apa yang dibicarakan oranglain,
sehingga anak-anak tunarungu menjadi
mudah merasa curiga.
• Sering bersikap agresif
Karakteristik Anak Tunadaksa
Anak tunadaksa adalah anak-anak
yang mengalami kelainan fisik, atau
cacat tubuh, yang mencakup kelainan
anggota tubuh maupun yang
mengalami kelainan anggota gerak
dan kelumpuhan yang disebabkan karena
Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus 4-5 kelainan yang ada di syaraf
pusat atau otak, disebut sebagai cerebral palcsy
(CP), dengan karakteristik sebagai
berikut:
1.Gangguan Motorik
Gangguan motoriknya berupa
kekakuan, kelumpuhan, gerakangerakan yang tidak dapat dikendalikan, gerakan
ritmis dan gangguan
keseimbangan. Gangguan motorik ini
meliputi motorik kasar dan
motorik halus.
2.Gangguan Sensorik
Pusat sensoris pada manusia terleak
otak, mengingat anak cerebral
palsy adalah anak yang mengalami
kelainan di otak, maka sering anak
cerebral palsy disertai gangguan
sensorik, beberapa gangguan
sensorik antara lain penglihatan,
pendengaran, perabaan, penciuman
dan perasa. Gangguan penglihatan
pada cerebral palsy terjadi karena
ketidakseimbangan otot-otot mata
sebagai akibat kerusakan otak.
Gangguan pendengaran pada anak
cerebral palsy sering dijumpai pada
jenis athetoid.
3.Gangguan Tingkat Kecerdasan
Walaupun anak cerebral palsy
disebabkan karena kelainan otaknya
tetapi keadaan kecerdasan anak cerebral palsy bervariasi, tingkat
kecerdasan anak cerebral palsy
mulai dari tingkat yang paling rendah
sampai gifted. Sekitar 45%
mengalami keterbelakangan mental, dan
35% lagi mempunyai tingkat
kecerdasan normal dan diatas rata-rata.
Sedangkan sisanya cenderung dibawah
rata-rata (Hardman, 1990).
4.Kemampuan Berbicara
Anak cerebral palsy mengalami
gangguan wicara yang disebabkan
oleh kelainan motorik otot-otot
wicara terutama pada organ artikulasi
seperti lidah, bibir, dan
rahang bawah, dan ada pula yang terjadi
karena kurang dan tidak
terjadi proses interaksi dengan
lingkungan.
Dengan keadaan yang demikian maka
bicara anak-anak cerebral palsy
menjadi tidak jelas dan sulit
diterima orang lain.
5.Emosi dan Penyesuaian Sosial
Respon dan sikap masyarakat
terhadap kelainan pada anak cerebral
palsy, mempengaruhi pembentukan
pribadi anak secara umum. Emosi
anak sangat bervariasi, tergantung
rangsang yang diterimanya. Secara
umum tidak terlalu berbeda dengan
anak–anak normal, kecuali
beberapa kebutuhan yang tidak
terpenuhi yang dapat menimbulkan
emosi yang tidak terkendali. Sikap
atau penerimaan masyarakat
terhadap anak cerebral palsy dapat
memunculkan keadaan anak yang
merasa rendah diri atau kepercayaan
dirinya kurang, mudah
tersinggung, dan suka menyendiri,
serta kurang dapat menyesuaiakan
diri dan bergaul dengan lingkungan.
Karakteristik Anak Tunagrahita
Untuk memahami karakteristik anak
tunagrahita maka perlu
disesuaikan dengan klasifikasinya
karena setiap kelompok tunagrahita
memiliki karakteristik yang
berbeda-beda. Sesuai dengan bidang bahasan
pada materi ini akan dibahas pada
karakteristik akademik tunagrahita sebagai
berikut:
Karakteristik anak tunagrahita secara umum
menurut James D. Page
(Amin, 1995:34-37) dicirikan dalam
hal: kecerdasan, sosial, fungsi mental,
dorongan dan emosi, kepribadian
serta organisme. Masing-masing hal itu
sebagai aspek diantara tunagrahita
dengan dijelaskan sebagai berikut:
1. Intelektual.
Dalam pencapaian tingkat kecerdasan
bagi tunagrahita selalu dibawah
rata-rata dengan anak yang seusia
sama, demikian juga perkembangan
kecerdasan sangat terbatas. Mereka
hanya mampu mencapai tingkat usia
mental setingkat usia mental anak
usia mental anak Sekolah Dasar kelas
IV, atau kelas II, bahkan ada yang
mampu mencapai tingkat usia mental setingkat usia mental anak pra sekolah.
Dalam hal belajar, sukar
memahami masalah. Masalah yang
bersifat abstrak dan cara belajarnya
banyak secara membeo (rote
learning) bukan dengan pengertian.
2. Segi sosial.
Dalam kemampuan bidang sosial juga
mengalami kelambatan kalau
dibandingkan dengan anak normal
sebaya. Hal ini ditunjukkan dengan
pergaulan mereka tidak dapat
mengurus, memelihara, dan memimpin diri.
Waktu masih kanak-kanak mereka
harus dibantu terus menerus, disuapi
makanan, dipasangkan dan
ditanggalkan pakaiannya, diawasi terus
menerus, setelah dewasa kepentingan
ekonominya sangat tergantung pada
bantuan orang lain. Kemampuan
sosial mereka ditunjukkan dengan Social
Age (SA) yang sangat kecil
dibandingkan dengan Cronological Age
(CA). Sehingga skor sosial Social
Quotient (SQ)nya rendah.
3. Ciri pada fungsi mental
lainnya.
Mereka mengalami kesukaran dalam
memusatkan perhatian, jangkauan
perhatiannya sangat sempit dan
cepat beralih sehingga kurang tangguh
dalam menghadapi tugas. Pelupa dan
mengalami kesukaran
mengungkapkan kembali suatu ingatan,
kurang mampu membuat asosiasi
serta sukar membuat kreasi baru.
4. Ciri dorongan dan emosi
Perkembangan dorongan emosi anak
tunagrahita berbeda-beda sesuai
dengan tingkat ketunagrahitaannya
masing-masing. Anak yang berat dan
sangat berat ketunagrahitaannya
hampir tidak memperlihatkan dorongan
untuk mempertahankan diri,
dalam keadaan haus dan lapar tidak
menunjukkan tanda-tandanya,
mendapat perangsang yang menyakitkan
tidak mampu menjauhkan diri dari
perangsang tersebut. Kehidupan
emosinya lemah, dorongan
biologisnya dapat berkembang tetapi
penghayatannya terbatas pada
perasaan senang, takut, marah, dan benci.
Anak yang tidak terlalu berat
ketunagrahitaannya mempunyai kehidupan
emosi yang hampir sama dengan anak
normal tetapi kurang kaya, kurang
kuat, kurang beragam, kurang mampu
menghayati perasaan bangga,
tanggung jawab dan hak sosial.
5. Ciri kemampuan dalam bahasa
Kemampuan bahasa sangat terbatas
perbendaraaan kata terutama kata
yang abstrak. Pada anak yang
ketunagrahitaannnya semakin berat banyak
yang mengalami gangguan bicara
disebabkan cacat artikulasi dan
problem dalam pembentukan bunyi.
6. Ciri kemampuan dalam bidang
akademis
Mereka sulit mencapai bidang
akademis membaca dan kemampuan
menghitung yang problematis, tetapi
dapat dilatih dalam menghitung
yang bersifat perhitungan.
7. Ciri kepribadian
Kepribadian anak tunagrahita dari
berbagai penelitian oleh Leahy, Balla,
dan Zigler (Hallahan &
Kauffman, 1988:69) bahwa anak yang merasa
retarded tidak percaya terhadap kemampuannya,
tidak mampu
mengontrol dan mengarahkan dirinya
sehingga lebih banyak bergantung
pada pihak luar (external locus of
control). Mereka tidak mampu untuk
mengarahkan diri sehingga segala
sesuatu yang terjadi pada dirinya
bergantung pengarahan dari luar.
8. Ciri kemampuan dalam organisme.
Kemampuan anak tunagrahita untuk
mengorganisasi keadaan dirinya
sangat jelek, terutama pada anak
tunagrahita yang kategori berat. Hal ini
ditunjukan dengan baru dapat
berjalan dan berbicara pada usia dewasa,
sikap gerak langkahnya kurang
serasi, pendengaran dan penglihatannya
tidak dapat difungsikan, kurang
rentan terhadap perasaan sakit, bau yang
tidak enak, serta makanan yang
tidak enak
Karakteristik Anak Tunalaras
Anak tunalaras adalah anak-anak
yang mengalami gangguan perilaku,
yang ditunjukkan dalam aktivitas
kehidupan sehari-hari, baik di sekolah
maupun dalam lingkungan sosialnya.
Pada hakekatnya, anak-anak tunalaras
memiliki kemampuan intelektual yang
normal, atau tidak berada di bawah
rata-rata. Kelainan lebih banyak
banyak terjadi pada perilaku sosialnya.
Beberapa karakteristik yang menonjol dari
anak-anak berkebutuhan
khusus yang mengalami kelainan
perilaku sosial ini adalah:
1. Karakteristik umum
• Mengalami gangguan perilaku; suka
berkelahi, memukul, menyerang,
merusak milik sendiri atau orang
lain, melawan, sulit konsentrasi,
tidak mau bekerjasama, sok aksi,
ingin menguasai oranglain,
mengancam, berbohong, tidak bisa
diam, tidak dapat dipercaya, suka
mencuri, mengejek, dan sebagainya.
• Mengalami kecemasan; kawatir,
cemas, ketakutan, merasa tertekan,
tidak mau bergaul, menarik diri,
kurang percaya diri, bimbang, sering
menangis, malu, dan sebagainya.
• Kurang dewasa; suka berfantasi,
berangan-anagan, mudah
dipengaruhi, kaku, pasif, suka
mengantuk, mudah bosan, dan
sebagainya
• Agresif; memiliki gang jahat,
suka mencuri dengan kelompoknya,
loyal terhadap teman jahatnya,
sering bolos sekolah, sering pulang
larut malam, dan terbiasa minggat
dari rumah.
2. Sosial /emosi
• Sering melanggar norma masyarakat
• Sering mengganggu dan bersifat
agresif
• Secara emosional sering merasa
rendah diri dan mengalami kecemasan
3. Karakteristik akademik
• Hasil belajarnya seringkali jauh
di bawah rata-rata
• Seringkali tidak naik kelas
• Sering membolos sekolah
• Seringkali melanggar peraturan
sekolah dan lalulintas.
Komentar
Posting Komentar