anatomi otot rangka
Kelangsungan hidup manusia sebagian besar bergantung pada kemampuannya
untuk mengatasi perubahan kondisi lingkungannya. Untuk itu, gerak merupakan
bagian utama dalam mengatasi perubahan tersebut. Sebagian besar sistem-sistem
tubuh ikut berperan dalam penyempurnaan gerak, namun sistem kerangka dan sistem
ototlah yang secara bersama benar-benar menghasilkan gerakan. Pada buku Anatomi
I, kita telah mengetahui bagaimana susunan hubungan antar tulang dan bagaimana
kerangka pendukung memungkinkan timbulnya gerakan. Namun demikian tulang
bersama sendinya tak dapat bergerak dengan sendirinya, mereka harus digerakan.
Penggerak itu adalah otot. Dengan demikian, bila tulang sebagai alat gerak
pasif maka otot sebagai alat gerak aktif.
A. Jenis Otot
Berdasarkan kecepatan kontraksinya otot dapat dibedakan menjadi dua, yaitu
serabut tipe cepat dan serabut tipe lambat. Otot yang banyak mengandung myoglobin
disebut otot merah atau otot lambat. Sedangkan yang kurang mengandung myoglobin
disebut otot putih atau otot cepat. Otot cepat mempunyai aktivitas ATP-ase mitokhondrion yang tinggi, mendapat
persyarafan dari motorneuron yang besar, dan cepat lelah. Otot putih ini cocok
untuk melakukan aktivitas yang membutuhkan kecepatan dan kecepatan, misalnya;
sprint, gerakan smash, menolak peluru, melempar lembing, dan lain-lain. Sebaliknya,
pada otot lambat aktivitas ATP-ase mitokhondrionnya lambat, persyarafannya dari
motorneuron halus dan tidak cepat lelah. Otot merah berfungsi untuk mengatur
kontraksi yang lama dan berkelanjutan, seperti menyokong berat badan melawan
gravitasi dan lari jarak jauh. Dari beberapa penelitian membuktikan bahwa
proporsi jenis serabut otot ditentukan oleh faktor genetik (keturunan), namun
demikian pengaruh persyarafan oleh motor neuron dan latihan fisik dapat
mempengaruhi proporsi tersebut.
Berdasarkan jaringannya dikenal tiga jenis otot, yaitu otot rangka, otot
polos, dan otot jantung. 40 % dari berat badan manusia terdiri dari otot
rangka, 10 % terdiri dari otot polos dan otot jantung. Otot polos terdapat pada
dinding saluran cerna, saluran kemih, uterus, dan pembuluh darah. Sedangkan
otot jantung hanya terdapat pada jantung.
Sel otot rangka terdiri dari sel yang mempunyai stria, berbentuk silindris,
dan mempunyai banyak inti serta berada di bawah kontrol kesadaran. Sel-selnya
sejajar satu dengan lainnya dan melekat pada tulang melaui jaringan kolagen
yang membentuk tendo.
Sel otot jantung juga mempunyai stria, banyak inti berbentuk silindris dan
bercabang-cabang serta berkontraksi tidak dibawah pengaruh kesadaran. Sel otot
polos tidak berstria, hanya mempunyai satu inti dan juga tidak dibawah pengaruh
kesadaran. Sel otot polos tidak berstria, hanya mempunyai satu inti dan juga
bekerja tidak dibawah pengaruh kesadaran.
B. Sifat Otot
1.
Elastisitas
2.
Kontraktilitas
3.
Ekstensibilitas
4.
Irritabilitas
C. Fungsi Otot
Otot mempunyai tiga fungsi utama, yaitu fungsi gerak, fungsi dalam
pemeliharaan postur tubuh, dan fungsi sebagai penghasil panas tubuh.
1. Fungsi
gerak terdiri dari gerak bentuk lokomosi (berpindah tempat), bentuk gerak
bagian tubuh, perubahan ukuran lobang, bentuk dorongan terhadap substansi yang
melalui tabung, misalnya dorongan terhadap darah yang melalui arteri karena
dorongan jantung atau lewatnya makanan melalui saluran pencernaan makanan karena
lambung dan usus kontraksi. Lokomosi artinya penyesuaian diri terhadap
lingkungannya.
2. Fungsi
dalam pemeliharaan postur tubuh. Kontraksi parsial beberapa otot kerangka
dilanjutkan serempak sehingga memungkinkan kita dapat berdiri, duduk, atau
dalam posisi lain.
3. Fungsi
sebagai penghasil panas tubuh. Perubahan kimia yang terjadi dalam kegiatan
otot menghasilkan panas yang cukup untuk pemeliharaan panas tubuh.
D. Otot Rangka
1.
Struktur Otot Rangka
Otot merupakan jaringan eksitabel atau jaringan peka rangsang, yang
dapatdirangsang ecara kimiawi, listrik, dan mekanik untuk menimbulkan suatu
aksi potensial.
Sel otot rangka terdiri atas sel yang mempunyai stria, berbentuk silindris,
da mempunyai banyak inti (multinucleus)
serta berada di bawah kontrol kesadaran. Sel-selnya sejajar satu dengan
lainnya, dan melekat pada tulang melalui jaringan kolagen yang membentuk tendo.
Sel otot jantung juga memiliki stria, mempunyai banyak inti, berbentuk
silindris dan bercabang-cabang, serta berkontraksi tidak dibawah pengaruh
kesadaran.
Otot rangka terdiri atas serabut-serabut intrafusal dan ekstrafusal. Setiap
serabut akan terbagi ke dalam sub unit
yanglebih kecil seperti yang terlihat pada gambar
. Fungsi utama otot rangka adalah untuk melakukan kontaksi otot rangka yang
menjadi dasar terjadinya gerakan tubuh.
Seberkas otot terdiri atas beberapa serabut otot, setiap serabut
dikelilingi oleh sarkolema yang merupakan membran sel serabut otot. Sarkolema
akan bersatu dengan serabut tendon yang akan membentuk tendon otot yang melekat
pada tulang.
Sarkolema terdiri atas miofibril-miofibril yang jumlahnya berkisar antara
60-1000. miofibril-miofibril ini berderet membujur sepanjang serabut otot.di
antara mofibril terdapat celah yang terisi sarkoplasma. Sarkoplasma merupakan
zat car yang dikandung oleh sarkolema, banyak mengandung ion kalium (K),
magnesium (Mg), fosfat (f), dan enzim-enzim. Selain itu juga terdapat
mitokhondria dalam jumlah yang besar yan terletak di antara miofibril. Pada
mitokhondria ini dibentuk ATP sebagai sumber energi untuk kontraksi otot. Di
antara miofibril terdapat Rektikulum Sarkoplasma (RS). RS merupakan struktur
yang memegang peranan penting alam proses eksitasi-kontraksi kopling. Pada
ujung RS terdapat pelebaran yang disebut terminal
cysternae. RS berfungsi untuk
melepaskan ion calcium (Ca) selama proses kontraksi dan pengambilan kembali Ca
ketika proses relaksasi. Otot-otot yang memiliki RS lebih banyak akan lebih
cepat berkontraksi.
Tiap miofibril tersusun oleh sejumlah serabut-serabut halus yang dinamakan
filamen. Filamen tersebut merupakan struktur dari molekul-molekul suatu jenis
protein.pada gambaran mikroskopik dari serabut otot yang terpotong longitudinal
terlihat garis-garis tebal dan tipis berselang seling yang dinamakan “band”.
Filamen-filamen tebal yang menyusun garis A (A band) dan filamen tipis atau halus menyusun garis I (I band) di pertengaha garis I terdpat
garis tegak lurus terhadap garis I, dinamakan garis Z. Berkas-berkas filamen
yang dibatasi dua garis Z adalah Sarkomer.
gambar
Filamen-filamen tebal (garis A) tersusun dari satu jenis protein, yaitu
miosin. Miosin terdiri atas 6 rantai polipeptida,
yaitu 2 rantai berat (heavy chains),
dan 4 rantai ringan (light chains).
Rantai berat akan membentuk kepala miosin (head
myosin) yang akan berinteraksi dengan
aktin, serta melakukan hidrolisis ATP. Rantai ringan juga ikut membentuk kepala
miosin, membant mengatur kontraksi otot.
Filamen tipis (garis I) tersusun daritiga jenis protein, yaitu aktin,
tropomiosin, dan troponin. Ketiga macam protein tersebut dikenal sebagai
protein kontraktil (protein yang mampu berkontraksi).
a.
Aktin
Molekul aktn terdiri atas dua jenis, yakni aktin-G dan aktin-F. Aktin-G
merupakan protein globular, merupakan tempat melekatnya molekul aktin lainnya
(molekul miosin, tropomiosin, troponin I, dan ATP). Aktin-F merupakan protein
fibrosus yang berfungsi sebagai kerangka dari filamen aktin.
b.
Tropomiosin
Molekul tropomiosin terdiri atas dua rantai helix.molekul ini berhubungan
dengan aktin-F, dan berjalan seperti spiral mengelilingi aktin-F. Dalam keadaan
istirahat molekul tropomiosin terletak pada bagian atas filamen aktin yang
aktif (active site actin), dan hal
ini mencegah interaksi antara molekul aktin dan miosin sehingga tidak terkadi
kontraksi
c.
Troponin
Troponin terdiri atas tiga jenisprotein, yaitu: troponin-T (TN-T)
troponin-C (TN-C), dan troponin-I (TN-I). Setiap troponin terikat dengan
tropomiosin sehingga membentuk troponin-tropomiosin
kompleks. TN-T mempunyai afinitas yang tinggi terhadap tropomiosin, TN-C
memiliki afinitas yang tiggin terhadap ion Ca, dan TN-I memiliki afinitas
tinggi terhadap molekul aktin.pada saat kontraksi, hanya molekul aktin dan
miosin yang secara langsung terlibat dalam proses kntraksi, sedangkan troponin
dan tropomiosin hanya mengatur interaksi tersebut, sehingga berfungsi sebagai regulatory protein.
Otot rangka sangat bervariasi dalam hal ukuran, bentuk, susunan serabut dan
cara terikatnya pada tulang atau struktur lain yang dapat bergerak. Otot rangka
dapat berupa tali kecil, misalnya M. stapedius (pada telinga tengah); dapar
berupa massa otot yang besar misalnya otot paha. Beberapa otot ukurannya besar,
beberapa kecil, beberapa panjang dan seperti pita, beberapa pendek dan tumpul.
Beberapa berbentuk lembaran, yang lainnya seperti gumpalan, segi tiga, segi
empat, ada pula yang tidak teratur bentuknya. Otot tertentu tersusun atas
sejumlah besar serabut otot, sedang lainnya hanya terdiri dari sejumlah kecil
serabut otot. Serabut panjang
namun sedikit jumlahnya, memberikan gerakan tanpa kekuatan besar sedangkan
serabut pendek dan banyak jumlahnya, memberikan kekuatan besar. Susunan
serabut-serabut juga bervariasi pada otot yang berbeda sesuai dengan gerakan
dan kekuatan yang diperlukan. Pada beberapa otot, serabutnya sejajar dengan sumbu
otot, beberapa yang lain memusat pada suatu ikatan sempit, dan beberapa yang
lain lagi menyerong. Serabut otot dapat juga melengkung. Arah serabut yang
menyusun suatu otot mempunyai makna tertentu karena akan menentukan arah
tarikan yang dilakukannya terhadap tulang bila otot melakukan kontraksi.
Setiap otot terdiri dari bagian utama, yaitu corpus atau badan otot, dan
dua ujung yang disebut insersio dan origo. Insersio dan origo ini terikat oleh
jaringan ikat berserabut pada tulang, kartilago, fascia, atau kulit.
Lembaran serabut mengikat setiap otot, lembaran ini merupakan bagian dari
fascia tebal yang dikenal sebagai epimysium atau fascia otot. Epimysium dapat
melanjut sebagai suatu tendon, serabut putih kuat berbentuk tali yang berakhir
sebagai bagian periosteum tulang yang berdekatan, dengan demikian mengikatkan
otot pada tulang dengan sangat kuat.
Otot kerangka melakukan kontraksi hanya apabila ia mendapat rangsangan.
Rangsang dibawa oleh syaraf sebagai impuls syaraf menuju otot oleh saraf
motorik (efferent). Rangsangan dapat
berupa rangsang alami, dapat juga berupa rangsang buatan, misalnya arus
listrik. Karena otot kerangka tanpa inervasi tidak berfungsi, berarti otot dan
syaraf motorik merupakan satu kesatuan fisiologis yang selalu berfungsi bersama.
Otot menggerakkan berbagai bagian tubuh. Pemendekan otot menyebabkan adanya
suatu tarikan pada tulang yang menghasilkan gerakan berbeda, bergantung dari
jenis sendi yang menghubungkan dua tulang tempat otot tersebut mengikatkan
diri. Tulang dalam hal ini berfungsi sebagai pengungkit. Sendi berfungsi
sebagai titik tumpu pengungkit ini. Bila suatu otot melakukan kontraksi, ia
akan menarik insersionya, sebagai hasilnya, timbullah gerakan.
Otot yang menggerakkan suatu bagian tubuh biasanya tidak terletak pada
bagian yang digerakkan, namun terletak di bagian atas atau bawah, depat atau
belakangnya. Sebagai contoh, sebagaian besar otot yang mengerakkan tungkai
bawah terdapat di paha, yang menggerakkan kepala ada di leher, yang
menggerakkan lengan atas ada di dada, yang menarik kepala ke belakang ada di
badan belakang, demikianlah seterusnya. Sebagain besar gerakan bagian tubuh
terjadi dengan menarik satu tulang ke arah tulang yang lain. Origo dan corpus
otot biasanya terletak pada satu sisi sendi, sedangkan insersionya terletak
pada sisi yang lain. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa corpus otot atau
badan otot tidal terletak pada tulang yang bergerak, tetapi terletak pada
tulang yang tidak bergerak.
Yang juga penting dipahami adalah bahwa otot tidak dapat bekerja sendiri
tetapi bekerja dalam kelompok. Gerakan apapun yang dilakukan merupakan hasil
koordinasi gerakan beberapa otot. Beberapa otot dalam kelompoknya melakukan
kontraksi, sementara otot yang lain dalam keadaan relaksasi. Untuk mengenal
fungsi khusus otot ini dalam kelompoknya, dapat
dikelompokkan sebagai berikut:
a.
Penggerak
utama atau agonist,
adalah oto atau otot-otot yang menyebabkan adanya gerakan.
b.
Antagonist,
adalah otot-otot yang relaks sementara otot agonist melakukan kontraksi.
c.
Synergist, adalah
otot-otot yang melakukan kontraksi pada saat yang sama dengan otot agonist,
tetapi bekerja pada sendi yang berdekatan untuk lebih menyempurnakan gerakan,
dengan demikian membantu otot agonist untuk menghasilkan suatu gerakan yang
lebih berdaya guna.
d.
Fixator,
adalah otot-otot yang menstabilkan origo penggerak utama atau agonist sehingga
penggerak otot dapat bekerja lebih berdaya guna.
Karena suatu otot melakukan kontraksi, maka satu tulang harus tetap diam
tidak bergerak untuk bekerja sebagai jangkar bagi otot dalam menarik tulang
lain ke arahnya. Jadi origo suatu otot merupakan ujung yang terikat pada tulang
yang tetap diam tidak bergerak ketika otot melakukan kontraksi. Insersio adalah
ujung otot yang terikat pada tulang yang bergerak ketika otot melakukan
kontraksi. Insersio ditarik ke arah origo. Dalam beberapa hal, origo dapat
saling bertukar fungsi dengan insersio, artinya ujung yang bergerak sebagai
insersio dalam suatu gerakan berperan sebagai origo pada gerakan yang lain.
2. Transmisi Neuromuscular
Aktivitas otot rangka diatur oleh
susunan saraf pusat melalui persarafan motorik pada serabut otot yang terdiri
atas serabut sarafbermielin. Setiap serabut saraf motorik tersebut terbagi
menjadi sejumlah cabang-cabang yang akan berhubungan langsung dengan serabut
otot melaui hubungan saraf-otot yang juga disebut sebagai neuromuscular junction atau motor
end-plate. Hubungan saraf-otot ini terjadi pada tengah otot, sehingga aksi
potensial pada serabut otot dapat menyebar ke semua arah serabut otot sampai ke
ujungnya.
Setiap akson yang menyarafi suatu serabut otot akan kehilangan lapisan
mielinnya pada saat akan mencapai serabut otot yang disarafinya. Ujung-ujung
saraf tersebut akan invaginasi ke serabut otot dan membentuk struktur neuromuscular junction. Satu sel saraf beserta serabut otot yang
disarafi sesebut motor unit. Pada gambar dapat dilihat struktur neuromuscular junction. Invaginasi dari membran otot disebut synaptic throught, dan antara ujung
saraf presinaptic dengan mebran serabut otot disebut synaptic cleft atau celah sinaptik. Pada dasar synaptic throught terdapat banyak lipatan-lipatan membran serabut
otot yang disebut subneural cleft,
yang berfungsi untuk memperluas permukaan membran serabut otot dimana neurotransmiter akan bekerja.
Pada terminal presinaptik terdapat
banyak mitokhondria yang berfungsi sebagai sumber energi untuk sintesa ACh (acetylcholine) yang terdapat pada visikel
terminal presinaptik. Visikel tersebut berjumlah kurang lebih 300.000 pada
setiap terminal presinaptik. Pada celah sinap, yaitu pada lamina basalis,
banyak melekat enzim asetilkholinesterase
yang berfungsi untuk sintesa ACh.
Aksi potensial pada akson akan
menyebabkan meningkatnya permeabilitas terhadap ion Ca yang menyebabkan ACh
melalui proses eksitosis. ACh akan berdifusi melalui celah sinaptik dan terikat
pada reseptor nikotinik yang terdapat pada membran neuromuscular junction.
Terikatnya ACh dengan reseptor meningkatkan konduktan untuk ion Na dan ion K.
Ion Na akan masuk ke dalam sel dan menyebabkan depolarisasi, yang disebut end-plate potential. ACh kemudian
diinaktivasi oleh enzym asetilkholinesterase.
Aksi potensial pada otot akan
menyebar melalui T tubulus yang melakukan penetrasi pada serabut otot. Aksi
potensial ini akan menyebabkan pelepasan ion Ca dri RS melalui Ca chanel. Ion
Ca yang keluar dari RS berdifusi ke miofibril di sekitarnya, selanjutnya Ca
tersebut akan terikat dengan TN-C dan selanjutnya terjadilah kontraksi
3. Kontraksi Otot Rangka
Otot dapat berkontraksi karena adanya protein kontraktil. Protein
kontraktil ini terdiri atas filamen tipis dan tebal. Filamen tipis terdiri atas
aktin, tropomiosin, dan troponin sebagai satu kesatuan unit fungsional. Filamen
tebal terdiri atas miosin dan beberapa jenis protein lainnya.
Mekanisme kontraksi otot terjadi
melalui beberapa tahapan seperti nampak pada gambar
. mekanisme ini dimulai oleh potensial aksi pada motor neuron yang menyebabkan
terjadinya pelepasan ACh (Acetyl Choline).
Acetyl Choline adalah zat penghantar
transmisi sinaptik. ACh akan terikat dengan reseptor pada otot dan menyebabkan end-plate potential (EPP) Na (natrium) channel
terbuka dan ion Ca (kalsium) masuk ke dalam sel dan merangsang pelepasan ion Ca
intrasel dari Rektikulum Sisterna (RS).
Depolarisasi RS terjadi dengan
mengaktifkan Ca channel pada tubulus T melalui reseptor dihidropiridin yang
terdapat pada Ca channel. Ion Ca dari RS ini akan terikat dengan TN-C
(troponin-C) dan selanjutnya merubah konfigurasi troponin-tropomiosin kompleks
dan terjadi sliding filamen aktin dan miosin.proses ini disebut proses
aksitasi-kontraksi kopling (exitation-contraction
coupling).
Dalam beberapa detik setelah proses
kontraksi, ion Ca akan dipompa kembali masuk ke dalam RS oleh pompa Ca (Ca
ATP-ase) yang terdapat pada membran RS. Dengan tidak adanya ion Ca,
troponin-tropomiosin akan kembali menutupi bagian aktif dari aktin, sehingga
menghalangi interaksi antara aktin dan miosin dan terjadilah relaksasi. Ca yang
dipompa kembali ke dalam RS oleh pompa Ca akan terikat dengan calcium-binding protein yang terdapat di
dalam RS yang disebut calsequetrin
yang dapat mengikat ion Ca dalam jumlah besar.Ion Ca yang terikat ini akan
dilepaskan kembali dari RS pada saat kontraksi berikutnya.
Bila terjadi kontraksi otot untuk
melawan beban, maka dibutuhkan energi. Energi ini diperoleh dari proses
hidrolisis ATP menjadi ADP yang akan menyebabkan pelepasan energi akibat
lepasnya ikatan fosfat berenergi tinggi. Pada otot, hidrolisis ATP menjadi ADP
dikatalisa oleh enzym ATP-ase yang diaktifkan ATP-ase yang terdapt pada miosin.
Sebelum proses kontraksi dimulai, ATP terikat pada kepala miosin. Aktivitas ATP-ase
yang diaktifkan oleh ion Ca akan memecahkan ATP menjadi ADP dan fosfat
inorganik (Pi). ADP dan Pi tersebut tetap terikat pada kepala miosin. Bila
troponin-tropomiosin kompleks dihambat oleh ion Ca, terbentuklah cross-bridge antara aktin-miosin. Untuk
menarik aktin diperlukan energi yang diperoleh dari pelepasan ADP dan Pi yang
terdapat pada kepala miosin. Pada tempat pelepasan ADP, dibentuk molekul ATP
baru, pembentukan ini menyebabkan cross-bridge
antara aktin-miosin terlepas. ATP akan dihidrolisis kembali menjadi ADP dan Pi
yang akan disimpan pada kepala miosin untuk dipergunakan pada kontraksi berikutnya.
Dari uraian di atas dapat dilihat
bahwa ATP tidak saja diperlukan untuk proses kontraksi tetapi juga untuk proses
relaksasi otot. Oleh sebab itu jika ATP berkurang atau tidak ada dalam otot,
maka otot akan mengalami rigor atau
kekakuan. Dalam keadaan ini hampir semua kepala miosin melekat pada aktin
dengan kuat. Keadaan inilah yang terjadi setelah oran meninggal dunia,
dandisebut rigor mortis. Dengan
demikian, dalam proses interaksi aktin-miosin ATP berperan sebagai: (1) sumber
energi, (2) mengurani afinitas aktin-miosin sehingga terjadi kontraksi yang
teratur di antara kedua filamen tersebut.
Macam-macam Kontraksi otot
Berdasarkan fungsi dan mekanika kerja dari suatu kontraksi otot dapat
diklasifikasikan sebagai berikut:
Tabel:Klasifikasi Kerja Otot
|
Type of Action
|
Function
|
External Mechanical
Work
|
|
Concentric
|
Acceleration
|
Positive {W= F (+D)}
|
|
Isometric
|
Fixation
|
Zero (no change in
length)
|
|
Eccentric
|
Deceleration
|
Negative {W= F (-D)}
|
W = Work F = Force D = Distance
Kontraksi eksentrik terjadi ketika otot memanjang di bawah ketegangan,
digunakan untuk mengurangi kecepatan tubh. Pada waktu berlari dengan langkah
cepat kemudian hendak berubah arah misalnya, sewaktu salah satu kakinya hendak
menyentuh tanah memerlukan keseimbangan tubuh untuk menjatuh dengan cepat.
Pelari tidak tergelincir atau jatuh pada waktu itu, karena otot-otot tungkainya
dapat berkontraksi dan mengonrol gerakan sewaktu turun di tanah. Sikap sewaktu
melangkah dengan cepat, tubuh pada posisi berhenti total terjadi kontraksi
isometrik, suatu posisi dimana tidak tampak pemendekan otot yang dapat diamati.
Dalam aktivitas olahraga, kontraksi ini terjadi cepat antara kontraksi
eksentrik dan kontraksi konsentrik berukutnya, dimana otot bersama-sama
memendek. Kontraksi ini kemudian menghasilkan percepatan segmen tungkai dalam
berlari.
Kontraksi otot yang timbul akibat perangsangan otot dapat berupa: (1)
kontraksi isotonik, (2) kontraksi isometrik, (3) kontraksi isokinetik.
|
Pada kontraksi
isotonik terjadi perubahan panjang otot. Ketika otot akan memendek untuk melawan
beban yang ringan dan konstan, terbentuk kerja eksternal, tanpa disertai
perubahan tegangan pada otot. Jenis kontraksi ini terjadi pada saat
mengangkat beban yang ringan. Kontraksi ini juga dikenal sebagai kontraksi
dinamik.
|
|
|
|
|
|
|
|
Pada kontraksi
isometrik, tidak terjadi perubahan panjang otot, ketika terjadi kontraksi.
Pemendekan otot dicegah, tidak terjadi kerja eksternal, tetapi tercipta suatu
tegangan, dan terjadi produksi energi dalam bentuk panas.
|
|
|
|
|
|
|
|
Kontraksi
isokinetik merupakan kontraksi otot maksimal pada kecepatan yang tetap pada
gerakan. Aplikasi jenis kontraksi ini terutama pada gerakan olahraga,
misalnya gerakan mengajun tangan pada renang gaya bebas.
|
|
|
Muscle Cramp adalah
kontraksi involunter dar otot rangka yang menimbulkan nyeri hal ini timbul
akibat usaha agar kekuatan kontraksi dapat ditingkatkan. Mekanisme Muscle Cramp ini dapat terjadi dengan
dua cara:
1.
Aksi potensial otot meningkat akibat terjadinya
hiperaktivitas motorneuron, yang mengakibatkan terjadinya spasme otot. Spasme
ini didahului oleh kontraksi yang berulang-ulang dari motot unit, dan secara
klinis dapat dilihat sebagai fasikulasi.
2.
Muscle
cramp terjadi akibat berkurangnya ATP, sehingga terjadi
akumulasi ion Ca. Akumulasi ini menyebabkan tidak dapat terjadi relaksasi otot,
dan terjadi kontraktur. Muscle Cramp
ini sering terjadi pada otot gastrocnomeus dan otot-otot kaki pada saat istirahat,
terutama pada malam hari.
Untuk mengatur fungsi gerakan otot secara tepat, tidak saja diperlukan
adanya eksitasi pada otot oleh motorneuron anterior, tetapi juga
diperlukan adanya sinyal umpan balik
dari tiap otot ke susunan saraf pusat yang memberi sinyal mengenai keadaan otot
setiap saat. Misalnya bagaiamanapanjang otot, teanga otot, dan bagaimana
perubahan panjang dan ketegangan tersebut. Untuk maksud tersebut, otot dan
tendon dilengkapi dengan reseptor sensoris (proposeptor),
yaitu muscle spindle dan organ tendon golgi.
a.
Muscle
Spindle
Muscle Spindle adalah
suatu struktur fusiform yang letaknya jauh ke dalam massa otot. Fungsinya
adalah mengirim sinyal ke susunan saraf pusat mengenai panjang otot dan
kecepatan perubahan panjang otot tersebut. Muscle spindle mempunya komponen
otot yang disebut berkas intrafusal yang terdiri atas serabut-serabut otot
bergaris. Berkas intrafusal diselubungi oleh kapsul tipis. Muscle spindle
mengandung 2 jenis serabut intrafusal, yakni Nuclear Bag Fiber (NBF) dan Nuclear
Chain Fiber (NCF). NBF lebih tebal daripada NCF. NBF mempunyai banyak
nuclei yang terletak disentral.pada umumnya satu muscle spindle memiliki 2 NBF
4-4 NCF (Ismaryati, 1997)
b.
Organ
Tendon Golgi
Organ tendon golgi adalah reseptor yang mengirim sinyal propiroseptif dari
otot ke susunan saraf pusat. Pada umumnya reseptor ini terletak dekat hubungan
tendon otot.organ tendon golgi tediri dari ujung serabut otot grup ib yang
mengelilingi fasikula tendon dan diselubungi oleh kapsul, fungsi reseptor ini
adalah memberikan sinyal ke susunan saraf pusat mengenaitegangan pada tendon
dan kecepatan perubahan tegangan yang terjadi.
Kontraksi otot menyebabkan hilangnya regangan pada muscle spindle tetapi
meregangkan organ tendon golgi karena organ tendon golgi memiliki kedudukan
yang “seri” dengan otot dan tendon.organ tendon golgi memiliki fungsi “reflex
penyelamat” (safty reflex), yakni
menghambat kontraksi otot bilamana regangan atau kontraksi otot sudah terlalu
besar sehingga membahayakan otot. Di samping ituorgan tendon golgi juga
berperan serta dalam umpan balik sinyal propiroseptif dari susunan saraf pusat
dari saat ke saat (Haris Siregar, 1994)
kunjungi http://aliffatkhurahman.blogspot.com/ untuk mendapatkan info dan materi lainnya tentang olahraga dan kesehatan. semoga bermanfaat. :)
Komentar
Posting Komentar