ASKEP LANSIA DENGAN GANGGUAN PSIKOLOGIS (DEPRESI)
ASKEP LANSIA DENGAN GANGGUAN PSIKOLOGIS (DEPRESI)
BAB I
PENDAHULUAN
- A. Latar
Belakang
Keberadaan usia
lanjut ditandai dengan umur harapan hidup yang semakin meningkat dari tahun ke
tahun, hal tersebut membutuhkan upayapemeliharaan serta peningkatan kesehatan
dalam rangka mencapai masa tua yang sehat, bahagia,berdaya guna dan produktif.
keberadaan usia
lanjut ditandai dengan umur harapan hidup yang semakin meningkat dari tahun ke
tahun, hal tersebut membutuhkan upaya pemeliharaan serta peningkatan kesehatan
dalam rangka mencapai masa tua yang sehat, bahagia, berdaya guna, dan
produktif.proses menua yang dialami oleh lansia menyebabkan mereka mengalami
berbagai perasan sedih,cemas,kesepian, dan mudah tersinggung dan depresi. Jika
lansia mengaklami gangguan tersebut maka kondisi tersebut dapat menggangu
kegiatan sehari-hari lansia.mencegah dan merawat lansia dengan masalah tersebut
adalah hal yang sangat penting dlamupaya mendorong lansia bahagia sejahtera di
dalamkeluarga serta masyarakat.
- B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan
uraian latar belakang di atas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut
:
- Apakah pengertian lansia dan batasan lansia ?
- Apakah yang dimaksud dengan proses menua ?
- Bagaimanakah teori-teori proses menua ?
- Apakah pengertian depresi ?
- Apakah faktor predisposisi dan pencetus ?
- Apakah tanda dan gejala depresi serta ciri-ciri
depresi ?
- Bagaimanakah asuhan keperawatan lansia dengan
depresi ?
1.
C. Tujuan
1.
Untuk menetahui pengertian lansia dan batasan usia.
2.
Untuk mengetahui dan mengerti proses menua.
3.
Untuk mengetahui teori – teori proses menua.
4.
Untuk mengetahui apa itu depresi
5.
Untuk mengetahui faktor predisposisi dan faktor
pencetus depresi
6.
Untuk mengetahui tanda dan gejala depresi.
7.
Untuk mengetahui asuhan keperawatan lansia dengan
depresi.
- D. Manfaat
Penyusunan
makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan mengenai lansia beserta
bagian-bagian penting dan asuhan keperawatan lansia dengan depresi. Dengan
penyusunan makalah ini, juga diharapkan dapat menjadi acuan untuk lebih
mengetahui apa yang menjadi tujuan penyusunan makalah ini.
- E. Metode
Penulisan
Dalam penulisan
makalah asuhan keperawatan lansia dengan depresi penulis menggunakan metode
study pustaka, pengetikan dan pengeditan serta browsing internet.
BAB II
LAPORAN
PENDAHULUAN
- A. Tinjauan
tentang Lansia
1.
Pengertian lansia
Menurut
organisasi kesehatan adalah usia pertengahan (midlle age) kelompok usia45-70
tahun usia lanjut (elders) antara 60-70 tahun usia tua (old) antara 75-90thn
usia dangat tua(very old) diatas 90 tahun.
Menurut prof
koesmoto setyonegoro lanjut usia adalah orang yg berumur 65 tahun keatas.
Sebenarnya lanjut usia adalah suatu proses alami yang tidakapat ditentukan oleh
tuhan yang maha esa (wahyudi nugroho,2000)
- Batasan-batasan Lansia
Batasan
seseorang dikatakan Lanjut usia masih diperdebatkan oleh para ahli karena
banyak faktor fisik, psikis dan lingkungan yang saling mempengaruhi sebagai
indikator dalam pengelompokan usia lanjut. Proses peneuan berdasarkan teori
psikologis ditekankan pada perkembangan). World Health Organization (WHO)
mengelompokkan usia lanjut sebagai berikut :
- Middle Aggge (45-59 tahun)
- Erderly (60-74 tahun)
- Old (75-90 tahun)
- Very old (> 91 tahun)
Menurut Birren
dan Renner dalam Johanna E.P (1991; 75) usia biologis dabat diberi batasan
sebagai suatu estimasi posisi seseorang dalam hubungannya dengan potensi jangka
hidupnya. Menurut Eisdoefer dan Wilkie dalam Johanna, EP (1993, 75) mengatakan
bahwa usia biologis adalah proses genetik yang berhubungan waktu, tetapi
terlepas dari stres, trauma dan penyakit. Seseorang dikatakan muda secara
biologis apabila secara kronologis tua, tetapi organ-organ tubuhnya, seperti
jantung, ginjal, hati, saluran pencernaan, tetap berfungsi seperti waktu muda.
Usia psikologis
adalah kapasitas individu untuk adaptif dalam hal ingatan, belajar, intelegnsi,
keterampilan, perasaan, motivasi dan emosi. Apabila hal ini masih baik dan
stabil dapat dikatakan secara psikologis ia masih dewasa.
Usia sosial
menekankan peran dan kebiasaan seseorang dalam hubungannya dengan orang lain
dan menjalankan perannya dengan penuh tanggung jawab di mayarakat.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi tua :
- Herediter
- Nutrisi
- Status Kesehatan
- Penglaman hidup
- Lingkungan
- Stres
- Proses penuaan
1.
Pengertian
Aging proses
adalah suatu periode menarik diri yang tak terhindarkan dengan karakteristik
menurunnya interaksi antara lansia dengan orang lain di sekitarnya. Individu
diberi kesempatan untuk mempersiapkan dirinya menghadapi “ketidamampuan” dan
bahkan kematia (Cox, 1984).
- Teori-teori Proses Penuan
1)
Teori Biologi
- Perubahahn biologi yang berasal dari
dalam(intrinsik)/ Teori Genetika
a)
Teori jam biologi (Biological clock theory), Proses menua dipengaruhi oleh faktor-faktor
keturunan dari dalam. Umur seseorang seolah-olah distel seperti jam.
b)
Teori menua yang terprogram (program aging theory), sel tubuh manusia hanya
dapat membagi diri sebanyak 50 kali.
c)
Teori Mutasi (somatic mutatie theory), setiap sel pada saatnya akan mengalami
mutasi.
d)
The Error Theory, “Pemakaian dan rusak” kelebihan usaha dan stres menyebabkan
sel-sel tubuh lelah (terpakai).
- Perubahan biologik yang berasalah dari
luar/ekstrinsik (Teori Non Genetika).
a)
Teori radikal bebas, meningkatnya bahan-bahan radikal bebas sebagai akibat
pencemaran lingkungan akan menimbulkan perubahan pada kromosom pigmen dan
jaringan kolagen.
b)
Teori imunlogi, perubahan jaringan getah bening akanmengakivbatkan
ketidakseimbangan sel T dan terjadi penurunan fungsi sel-sel kekebalan tubuh,
akibatnya usia lanjut mudah terkena infeksi.
2)
Teori Psikologik
a)
Maslow Hierareky Human Needs Theory
Teori Maslow
mengungkapkan hirarki kebutuhan manusia yang meliputi 5 hal (kebutuhan biologik,
keamanan da kenyamanan , kasih sayang, harga diri, aktualisasi diri dan
aktualisasi diri.
b)
Jung’s Theory of invidualsm
Teori
individualism yang dikemukakan Carl Jung (1960) mengungkapkan perkembangan
personality dari anak-anak, remaja, dewasa muda, dewasa pertengahan hingga
dewasa tua (lansia) yang dipengaruhi baik dari internal maupun eksternal.
c)
Course of Human Life Theory
Chorlotte
Buhler juga merupakan penganut teori psikologik dengungkapkan bawa teori
perkembangan dasar manusia yang difokuskan pada identifikasi pencapaian tujuan
hidup seseorang dalam melalui fase-fase perkembangan.
d)
Eight Stages of Life Theory
Teori “Eight
Stages of Life” yang dikemukakan Erikson (1950) adalah suatu teori perkembangan
psikososial yang terbagi atas 8 tahap, yang mempunyai tugas dan peran yang
perlu diselesaikan dengan baik :
|
Tahap I
Tahap II
Tahap III
Tahap IV
Tahap V
Tahap VI
Tahap VII
Tahap VIII
|
Masa bayi à timbul kepercayaan dasar (basic trust)
Tahap penguasaan diri (autonomi)
Tahap inisiatip
Timbulnya kemauan untuk berkarya (Industriousness)
Mencari identitas diri (Identy)
Timbulnya keintiman (Intimacy)
Mencapai kedewasaan (generativity)
Memasuki usia lanjut akan mencapai kematangan kepribadian (ego
Integrity), dia merupakan orang yang memiliki integritas dalam kepribadian
sehingga mampu berbuat untuk kepentingan umum. Kegagalan pada tahap ini akan
menyebabkan cepat putus asa.
|
Demikian juga
dengan teori “Developmental Task” yang dikemukakan Havighurst (1972) bahwa
masing-masing individu melalui tahap-tahap perkembangan secara spesifik dan
terjadi variasi/perbedaan antara individu satu dengan lainnya.
Tahap
perkembangan ini harus dilalui dengan baik sehingga individu akan merasakan
kebahagiaan dan kesuksesan dalam hidup.
- Peran Perawat pada klien lansia sesuai Proses
Penuaan.
Proses
Perawatan Kesehatan bagi para Lansia merupakan tugas yang membutuhkan suatu
kondisi yang bersifat komprehnsif sehingga diperlukan suatu upaya penciptaan
suatu keterpaduan antara berbagai proses yang dapat terjadi pada lansia. Untuk
mencapai tujuan yang lebih maksimal, konsep dan strategi pelayanan kesehatan
bagi para lansia memegang peranan yang sangat penting dalam hal ini tidak lepas
dari peran perawat sebagai unsur pelaksana.
- Perubahan- perubahan yang terjadi pada lansia
1.
Perubahan Fisik
Meliputi
perubahan dari tingkat sel sampai kesemua sistem organ tubuh, diantaranya
sistem pernafasan, pendengaran, penglihatan, kardiovaskuler, sistem pengaturan
tubuh, muskuloskeletal, gastrointestinal, genito urinaria, endokrin dan
integumen.
- Sistem pernafasan pada lansia.
1)
Otot pernafasan kaku dan kehilangan kekuatan, sehingga volume udara inspirasi
berkurang, sehingga pernafasan cepat dan dangkal.
2)
Penurunan aktivitas silia menyebabkan penurunan reaksi batuk sehingga potensial
terjadi penumpukan sekret.
3)
Penurunan aktivitas paru ( mengembang & mengempisnya ) sehingga jumlah
udara pernafasan yang masuk keparu mengalami penurunan, kalau pada pernafasan
yang tenang kira kira 500 ml.
4)
Alveoli semakin melebar dan jumlahnya berkurang ( luas permukaan normal 50m²),
Ù menyebabkan terganggunya prose difusi.
5)
Penurunan oksigen (O2) Arteri menjadi 75 mmHg menggangu prose oksigenasi dari
hemoglobin, sehingga O2 tidak terangkut semua kejaringan.
6)
CO2 pada arteri tidak berganti sehingga komposisi O2 dalam arteri juga menurun
yang lama kelamaan menjadi racun pada tubuh sendiri.
7)
Kemampuan batuk berkurang, sehingga pengeluaran sekret & corpus alium dari
saluran nafas berkurang sehingga potensial terjadinya obstruksi.
- Sistem persyarafan.
1)
Cepatnya menurunkan hubungan persyarafan.
2)
Lambat dalam merespon dan waktu untuk berfikir.
3)
Mengecilnya syaraf panca indera.
4)
Berkurangnya penglihatan, hilangnya pendengaran, mengecilnya syaraf pencium
& perasa lebih sensitif terhadap perubahan suhu dengan rendahnya ketahanan
terhadap dingin.
- Perubahan panca indera yang
terjadi pada lansia.
- Penglihatan
1)
Kornea lebih berbentuk skeris.
2)
Sfingter pupil timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap sinar.
3)
Lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa).
4)
Meningkatnya ambang pengamatan sinar : daya adaptasi terhadap kegelapan lebih
lambat, susah melihat dalam cahaya gelap.
5)
Hilangnya daya akomodasi.
6)
Menurunnya lapang pandang & berkurangnya luas pandang.
7)
Menurunnya daya membedakan warna biru atau warna hijau pada skala.
- Pendengaran.
1)
Presbiakusis (gangguan pada pendengaran) :
Hilangnya
kemampuan (daya) pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap bunyi suara,
antara lain nada nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit mengerti kata
kata, 50 % terjadi pada usia diatas umur 65 tahun.
2)
Membran timpani menjadi atropi menyebabkan otosklerosis.
3)
Terjadinya pengumpulan serumen, dapat mengeras karena meningkatnya kreatin.
- Pengecap dan pembau.
1)
Menurunnya kemampuan pengecap.
2)
Menurunnya kemampuan membau sehingga mengakibatkan selera makan berkurang.
- Peraba.
1)
Kemunduran dalam merasakan sakit.
2)
Kemunduran dalam merasakan tekanan, panas dan dingin.
- Perubahan cardiovaskuler pada usia
lanjut.
- Katub jantung menebal dan menjadi kaku.
- Kemampuan jantung memompa darah menurun 1 %
pertahun sesudah berumur 20 tahun. Hal ini menyebabkan menurunnya
kontraksi dan volumenya.
- Kehilangan elastisitas pembuluh darah.
Kurangnya
efektifitasnya pembuluh darah perifer untuk oksigenasi, perubahan posisi dari
tidur keduduk ( duduk ke berdiri ) bisa menyebabkan tekanan darah menurun
menjadi 65 mmHg ( mengakibatkan pusing mendadak ).
- Tekanan darah meningkat akibat meningkatnya
resistensi pembuluh darah perifer (normal ± 170/95 mmHg ).
- Sistem genito urinaria.
- Ginjal, Mengecil dan nephron menjadi atropi,
aliran darah ke ginjal menurun sampai 50 %, penyaringan diglomerulo
menurun sampai 50 %, fungsi tubulus berkurang akibatnya kurangnya
kemampuan mengkonsentrasi urin, berat jenis urin menurun proteinuria (
biasanya + 1 ) ; BUN meningkat sampai 21 mg % ; nilai ambang ginjal
terhadap glukosa meningkat.
- Vesika urinaria / kandung kemih, Otot otot
menjadi lemah, kapasitasnya menurun sampai 200 ml atau menyebabkan
frekwensi BAK meningkat, vesika urinaria susah dikosongkan pada pria
lanjut usia sehingga meningkatnya retensi urin.
- Pembesaran prostat ± 75 % dimulai oleh pria usia
diatas 65 tahun.
- Atropi vulva.
- Vagina, Selaput menjadi kering, elastisotas
jaringan menurun juga permukaan menjadi halus, sekresi menjadi berkurang,
reaksi sifatnya lebih alkali terhadap perubahan warna.
- Daya sexual, Frekwensi sexsual intercouse
cendrung menurun tapi kapasitas untuk melakukan dan menikmati berjalan
terus.
- Sistem endokrin / metabolik
pada lansia.
- Produksi hampir semua hormon menurun.
- Fungsi paratiroid dan sekesinya tak berubah.
- Pituitary, Pertumbuhan hormon ada tetapi lebih
rendah dan hanya ada di pembuluh darah dan berkurangnya produksi dari
ACTH, TSH, FSH dan LH.
- Menurunnya aktivitas tiriod Ù BMR turun dan
menurunnya daya pertukaran zat.
- Menurunnya produksi aldosteron.
- Menurunnya sekresi hormon bonads : progesteron,
estrogen, testosteron.
- Defisiensi hormonall dapat menyebabkan
hipotirodism, depresi dari sumsum tulang serta kurang mampu dalam
mengatasi tekanan jiwa (stess).
- Perubahan sistem pencernaan
pada usia lanjut.
- Kehilangan gigi, Penyebab utama adanya
periodontal disease yang biasa terjadi setelah umur 30 tahun, penyebab
lain meliputi kesehatan gigi yang buruk dan gizi yang buruk.
- Indera pengecap menurun, Adanya iritasi yang
kronis dari selaput lendir, atropi indera pengecap (± 80 %), hilangnya
sensitivitas dari syaraf pengecap dilidah terutama rasa manis, asin, asam
& pahit.
- Esofagus melebar.
- Lambung, rasa lapar menurun (sensitivitas lapar
menurun ), asam lambung menurun, waktu mengosongkan menurun.
- Peristaltik lemah & biasanya timbul
konstipasi.
- Fungsi absorbsi melemah ( daya absorbsi terganggu
).
- Liver ( hati ), Makin mengecil & menurunnya
tempat penyimpanan, berkurangnya aliran darah.
- Sistem muskuloskeletal.
- Tulang kehilangan densikusnya Ù rapuh.
- Resiko terjadi fraktur.
- Kyphosis.
- persendian besar & menjadi kaku.
- Pada wanita lansia > resiko fraktur.
- Pinggang, lutut & jari pergelangan tangan
terbatas.
- Pada diskus intervertebralis menipis dan menjadi
pendek ( tinggi badan berkurang ).
- Perubahan sistem kulit &
karingan ikat.
- Kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak.
- Kulit kering & kurang elastis karena
menurunnya cairan dan hilangnya jaringan adiposa
- Kelenjar kelenjar keringat mulai tak bekerja
dengan baik, sehingga tidak begitu tahan terhadap panas dengan temperatur
yang tinggi.
- Kulit pucat dan terdapat bintik bintik hitam
akibat menurunnya aliran darah dan menurunnya sel sel yang meproduksi
pigmen.
- Menurunnya aliran darah dalam kulit juga
menyebabkan penyembuhan luka luka kurang baik.
- Kuku pada jari tangan dan kaki menjadi tebal dan
rapuh.
- Pertumbuhan rambut berhenti, rambut menipis dan
botak serta warna rambut kelabu.
- Pada wanita > 60 tahun rambut wajah meningkat
kadang kadang menurun.
- Temperatur tubuh menurun akibat kecepatan
metabolisme yang menurun.
- Keterbatasan reflek menggigil dan tidak dapat
memproduksi panas yang banyak rendahnya akitfitas otot.
- Perubahan sistem reproduksi dan kegiatan sexual.
- Selaput lendir vagina menurun/kering.
- Movarium dan uterus.
- Atropi payudara.
- Testis masih dapat memproduksi meskipun adanya
penurunan secara berangsur berangsur.
- Dorongan sex menetap sampai usia diatas 70 tahun,
asal kondisi kesehatan baik.
- Perubahan-perubahan mental/ psikologis
Faktor-faktor
yang mempengaruhi perubahan mental adalah :
- Pertama-tama perubahan fisik, khususnya organ
perasa.
- Kesehatan umum
- Ttingkat pendidikan
- Keturunan (herediter)
- Lingkungan
- Gangguan saraf panca indra, timbul kebutaan dan
ketulian
- Gangguan konsep diri akibat kehilangan jabatan
- Rangkaian dari kehilangan yaitu kehilangan
hubungan dengan teman dan famili
- Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik, perubahan
terhadap gambaran diri dan perubahan konsep diri
Perubahan
kepribadian yang drastis keadaan ini jarang terjadi lebih sering berupa
ungkapan yang tulus dari perasaan seseorang, kekakuan mungkin oleh karena
faktor lain seperti penyakit-penyakit.
Kenangan
(memory) ada dua; 1) kenangan jangka panjang, berjam-jam sampai berhari-hari
yang lalu, mencakup beberapa perubahan, 2) Kenangan jangka pendek atau seketika
(0-10 menit), kenangan buruk.
Intelegentia
Quation; 1) tidakberubah dengan informasi matematika dan perkataan verbal, 2)
berkurangnya penampilan,persepsi dan keterampilan psikomotorterjadi perubahan
pada daya membayangkan, karena tekanan-tekanan dari faktro waktu.
- Perubahan Spiritual
Agama atau
kepercayaan makin terintegarsi dalam kehidupannya (Maslow,1970). Lansia makin
matur dalam kehidupan keagamaannya, hal ini terlihat dalam berpikir dan
bertindak dalam sehari-hari.
- B. Tinjauan
tentang Depresi
1.
Pengertian Depresi
Depresi adalah
suatu jenis alam perasaan atau emosi yang disertai komponen psikologik : rasa
susah, murung, sedih, putus asa -dan tidak bahagia, serta komponen somatik: anoreksia,
konstipasi, kulit lembab (rasa dingin), tekanan darah dan denyut nadi sedikit
menurun.
Depresi adalah
suatu kesedihan atau perasaan duka yang berkepanjangan dapat digunakan untuk
menunjukan berbagai fenomena, tanda, gejala, sindrom, keadaan emosional, reaksi
penyakit/ klinik.(stuart dan sundeer,1998)
Depresi
merupakan gangguan alam perasaan yang berat dan dimanifestasikan dengan
gangguan fungsi social dan fungsi fisik yang hebat, lama dan menetap pada
individu yang bersangkutan.
- Faktor predisposisi dan faktor pencetus
- Faktor Predisposisi:
- Faktor genetik dianggap mempengaruhi tranmisi
gangguan afektif melalui riwayat keluarga atau keturunan.
- Teori agresi menyerang kedalam,menunjukan bahwa
depresi terjadi karena perasaan marah yang dtujukan kpd diri sendiri.
- Teori kehilangan obyek merujuk kepada perpisahan
traumatik individu dengan benda atau yang sangat berarti.
- Teori organisasi keprbdian menguraikan bagaimana
konsep dri yang negatif dan harga diri rnudah mempengaruhi sistem
keyakinan dan penilaian seseorang terhadap stressor.
- Model kognitif menyatakan bahwa deprsi merupakan
masalah kognitif yang di dominasi oleh evaluasi negatif seseorang terhadap
dari seseorang, dunia seseorang dan masa depn seseorang.
- Model ktidakberdayaan yang dipelajari menunjukan
bahwa bukan semata-mata trauma menyebabkan depresi tapi keyakinan bahwa
seseorang tidak mempnyai kendali terhadap hasil yang penting dalam
kehidupannya oleh karena itu ia mengulngi respon yang adaptif.
- Model perilaku berkembang dari kerangka teori
belajar sosial yang mengasumsi penyebab depresi terletak pada kurangnya
keinginan positif dalam berinteraksi dengan lingkngan.
- Model biologi menguraikan perubahan kimia dalam
tubuh terjadi selma masa depresi. Termasuk defisiensi ketokolamin,
disfungsi endokrin,dan hiperskresi kortisol
- Stresor Pencetus
- Kehilangan keterikatan, yang nyata atau yang di
bayangkan, termasuk kehilangan cinta, seseorang, fungsi fisik,
kedudukan,atau harga diri. karena elemen aktual dan simbolik melibatkan
konsep kehilangan maka persepsi pasien merupakan hal yg sangat penting
- Peristiwa besar dalam kehidupan sering dilaporkan
sebagai pendahulu episode depresi dan mempunyai dampak terhadap
masalah-masalah yang dihadapi sekarang dan kemampuan menyelesaikan
masalah.
- Peran dan ketegangan peran telah dilaporkan
mempengaruhi perkembangan depresi, trutama pada wanita.
- Perubahan fisiologik diakibatkan oleh obat-obatan
atau penyakit fisik dan gangguan keseimbangan metabolik, dapat mencetuskan
gangguan alam perasaan. Diantra obat-obatan termasuk tersebut terdapat
obat antihipertensi dan penyalahgunaan zat yang menyebabkan kecanduan.
Kebanyakan penyakit kronik yg melemahkan tubuh juga sering disrtai dengan
depresi. Depresi yg terdapat pada usia lanjut biasnya bresfat kompleks
karena untuk menegakan diagnosis sering melibtkan evaluasi dari kerusakan
otak orgnik dan depresi klinik.
- Tanda Dan Gejala Depresi
Frank J.Bruno
dalam Bukunya Mengatasi Depresi (1997) mengemukan bahwa ada beberapa tanda dan
gejala depresi, yakni:
- Secara umum tidak pernah merasa senang dalam
hidup ini. Tantangan yang ada, proyek, hobi, atau rekreasi tidak
memberikan kesenangan.
- Distorsi dalam perilaku makan. Orang yang
mengalami depresi tingkat sedang cenderung untuk makan secara berlebihan,
namun berbeda jika kondisinya telah parah seseorang cenderung akan
kehilangan gairah makan.
- Gangguan tidur. Tergantung pada tiap orang dan
berbagai macam faktor penentu, sebagian orang mengalami depresi sulit
tidur. Tetapi dilain pihak banyak orang mengalami depresi justru terlalu
banyak tidur.
- Gangguan dalam aktivitas normal seseorang.
Seseorang yang mengalami depresi mungkin akan mencoba melakukan lebih dari
kemampuannya dalam setiap usaha untuk mengkomunikasikan idenya. Ya,kan?
saya tidak mengalami depresi?.dilain pihak, seseorang lainnya yang
mengalami depresi mungkin akan gampang letih dan lemah.
- Kurang energi. Orang yang mengalami depresi
cenderung untuk mengatakan atau merasa,saya selalu merasah lelah atau saya
capai. Ada anggapan bahwa gejala itu disebabkan oleh faktor-faktor emosional,
bukan faktor biologis.
- Keyakinan bahwa seseorang mempunyai hidup yang
tidak berguna, tidak efektif. orang itu tidak mempunyai rasa percaya diri.
Pemikiran seperti, saya menyia-nyiakan hidup saya, atau saya tidak bisa
mencapai banyak kemajuan, seringkali terjadi.
- Kapasitas menurun untuk bisa berpikir dengan
jernih dan untuk memecahkan masalah secara efektif. Orang yang mengalami
depresi merasa kesulitan untuk menfokuskan perhatiannya pada sebuah
masalah untuk jangka waktu tertentu. Keluhan umum yang sering terjadi
adalah, saya tidak bisa berkonsentrasi..
- Perilaku merusak diri tidak langsung. contohnya:
penyalahgunaan alkohol/narkoba, nikotin, dan obat-obat lainnya. makan
berlebihan, terutama kalau seseorang mempunyai masalah kesehatan seperti
misalnya menjadi gemuk, diabetes, hypoglycemia, atau diabetes, bisa juga
diidentifikasi sebagai salah satu jenis perilaku merusak diri sendiri
secara tidak langsung.
- Mempunyai pemikiran ingin bunuh diri. (tentu
saja, bunuh diri yang sebenarnya, merupakan perilaku merusak diri sendiri
secara langsung. Frank menambahkan bahwa tidak ada aturan yang pasti untuk
setiap orang. tetapi merupakan konvensi untuk menyatakan bahwa kalau lima
atau lebih dari tanda-tanda atau gejala itu ada dan selalu terjadi, maka
sangat mungkin seseorang mengalami depresi. Lain halnya jika seseorang
mnegalami gejala pada nomor 9, yakni punya keinginan untuk bunuh diri,
maka Frank menganjurkan seseorang untuk segera mencari bantuan profesional
secepat mungkin.
- Ciri-Ciri Depresi
Ciri-ciri tiga
macam depresi (Tumlahaye,1998).
|
|
Kehilangan
semangat (ringan)
|
Patah
semangat (serius)
|
Putus asa
(berat)
|
|
Mental
|
Ragu-ragu
Kemurkaan
Kasihan diri sendiri
|
Kritik diri sendiri
Kemarahan
Kasihan diri sendiri
|
Penolakan diri sendiri
Kepahitan
Kasihan diri
sendiri
|
|
Fisik
|
Kehilangan nafsu makan
Tidak dapat tidur
Penampilan yang tidak teratur
|
Kelesuan
Kecemasan
Menangis
|
Pengungsian diri
Kepasifan
|
|
emosional
|
Ketidakpatuhan
Kesedihan
Mudah tersinggung
Ragu-ragu akan tuhan
|
Keadaan yang sulit
Penderita kesepian
|
Tiada harapan
Skizophegenia
Keadaan tertinggal
Kemarahan akan sabda-sabda tuhan
|
|
Spiritual
|
Tidak senang akan tuhan
Tidak berterima kasih dan tidak percaya
|
Menolak akan tuhan
Mengeluh terhadap tuhan
|
Acuh tak acuh akan nasehat
Tidak percaya terhadap tuhan
|
BAB III
ASUHAN
KEPERAWATAN LANSIA DENGAN DEPRESI
- A. Pengkajian
1.
Identitas diri klien
2.
Struktur keluarga : Genoogram
3.
Riwayat Keluarga
4.
Riwayat Penyakit Klien
Kaji ulang
riwayat klien dan pemeriksaan fisik untuk adanya tanda dan gejala
karakteristik yang berkaitan dengan gangguan tertentu yang didiagnosis.
- Kaji adanya depresi.
- Singkirkan kemungkinan adanya depresi dengan
scrining yang tepat, seperti geriatric depresion scale.
- Ajukan pertanyaan-pertanyaan pengkajian
keperawatan
- Wawancarai klien, pemberi asuhan atau keluarga.
- Lakukan observasi langsung terhadap :
- Perilaku.
- Bagaimana kemampuan klien mengurus diri sendiri
dan melakukan aktivitas hidup sehari-hari?
- Apakah klien menunjukkan perilaku yang
tidak dapat diterima secara sosial?
- Apakah klien sering mengluyur danmondar¬mandir?
- Apakah ia menunjukkan sundown sindrom atau
perseveration phenomena?
- Afek
- Apakah kilen menunjukkan ansietas?
- Labilitas emosi?
- Depresi atauapatis?
- lritabilitas?
- Curiga?
- Tidak berdaya?
- Frustasi?
- Respon kognitif
- Bagaimana tingakat orientasi klien?
- Apakah klien mengalamikehilangan ingatan tentang
hal¬hal yang baru saja atau yang sudah lamaterjadi?
- Sulit mengatasi masalah, mengorganisasikan atau
mengabstrakan?
- Kurang mampu membuat penilaian?
- Terbukti mengalami afasia, agnosia,
atau,apraksia?
- Luangkan waktu bersama pemberi asuhan atau
keluarga
1.
Identifikasi pemberian asuhan primer dan tentukan
berapa lama ia sudah menjadi pemberi asuhan dikeluarga tersebut.
2.
ldentifikasi sistem pendukung yang ada bagi pemberi
asuhan dan anggota keluarga yang lain.
3.
Identifikasi pengetahuan dasar tentang perawatan klien
dan sumber daya komunitas (catat hal-hal yang perlu diajarkan).
4.
Identifikasi sistem pendukung spiritual bagi keluarga.
5.
Identilikasi kekhawatiran tertentu tentang klien dan
kekhawatiran pemberiasuhan tentang dirinya sendiri.
- Klasifikasi Data
·
Data Subyektif
- Lansia Tidak mampu mengutarakan pendapat dan
malas berbicara.
- Sering mengemukakan keluhan somatic seperti ;
nyeri abdomen dan dada, anoreksia, sakit punggung,pusing.
- Merasa dirinya sudah tidak berguna lagi, tidak
berarti, tidak ada tujuan hidup, merasa putus asa dan cenderung bunuh
diri.
- Pasien mudah tersinggung dan ketidakmampuan untuk
konsentrasi.
- Data Obyektif
- Gerakan tubuh yang terhambat, tubuh yang
melengkung dan bila duduk dengan sikap yang merosot.
- Ekspresi wajah murung, gaya jalan yang lambat
dengan langkah yang diseret.
- Kadang-kadang dapat terjadi stupor.
- Pasien tampak malas, lelah, tidak ada nafsu
makan, sukar tidur dan sering menangis.
- Proses berpikir terlambat, seolah-olah pikirannya
kosong, konsentrasi terganggu, tidak mempunyai minat, tidak dapat
berpikir, tidak mempunyai daya khayal.
Pada pasien
psikosa depresif terdapat perasaan bersalah yang mendalam, tidak masuk akal
(irasional), waham dosa, depersonalisasi dan halusinasi. Kadang-kadang pasien
suka menunjukkan sikap bermusuhan (hostility), mudah tersinggung (irritable)
dan tidak suka diganggu. Pada pasien depresi juga mengalami kebersihan diri
kurang dan keterbelakangan psikomotor.
- B. Diagnosa
Keperawatan
1.
Mencederai diri berhubungan dengan depresi.
2.
Gangguan alam perasaan: depresi berhubungan dengan
koping maladaptif.
- C. Rencana Tindakan
Keperawatan
- DX I : Mencederai diri
berhubungan dengan depresi.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1X24 jam lansia tidak mencederai
diri.
Kriteria Hasil:
- Lansia dapat mengungkapkan perasaanya.
- Lansia tampak lebih bahagia.
- Lansia sudah bisa tersenyum ikhlas.
Intervensi
- Bina hubungan saling percaya dengan lansia.
Rasional : hubungan saling percaya dapat
mempermudah dalam mencari data-data tentang lansia.
- Lakukan interaksi dengan pasien sesering mungkin
dengan sikap empati dan Dengarkan pemyataan pasien dengan sikap sabar
empati dan lebih banyak memakai bahasa non verbal. Misalnya: memberikan
sentuhan, anggukan.
Rasional : Dengan sikap sabar dan empati lansia
akan merasa lebih diperhatikan dan berguna.
- Pantau dengan seksama resiko bunuh diri/melukai
diri sendiri. Jauhkan dan simpan alat-alat yang dapat digunakan olch
pasien untuk mencederai dirinya/orang lain, ditempat yang aman dan
terkunci.
Rasional : Meminimalkan terjadinya perilaku
mencederai diri
- DX 2 : Gangguan alam perasaan: depresi
berhubungan dengan koping maladaptif
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1X24 jam lansia merasa tidak
stres dan depresi.
Kriteria Hasil
:
- Klien dapat meningkatkan harga diri
- Klien dapat menggunakan dukungan sosial
- Klien dapat menggunakan obat dengan benar dan
tepat
Intervensi :
- Klien dapat meningkatkan harga diri
Tindakan:
- Bantu untuk memahami bahwa klien dapat mengatasi
keputusasaannya.
Rasional : Membangun motivasi pada lansia
- Kaji dan kerahkan sumber-sumber internal
individu.
Rasional :Individu lebih percaya diri
- Bantu mengidentifikasi sumber-sumber harapan
(misal: hubungan antar sesama, keyakinan, hal-hal untuk diselesaikan).
Rasional : Menumbuhkan semangat hidup lansia
- Klien dapat menggunakan dukungan sosial
Tindakan:
- Kaji dan manfaatkan sumber-sumber ekstemal
individu (orang-orang terdekat, tim pelayanan kesehatan, kelompok
pendukung, agama yang dianut).
Rasional : Lansia tidak merasa sendiri
- Kaji sistem pendukung keyakinan (nilai,
pengalaman masa lalu, aktivitas keagamaan, kepercayaan agama).
Rasional : Meningkatkan nilai spiritual lansia
- Lakukan rujukan sesuai indikasi (misal :
konseling pemuka agama).
Rasional : Untuk menangani klien secara cepat
dan tepat
- Klien dapat menggunakan obat dengan benar dan
tepat
Tindakan:
- Diskusikan tentang obat (nama, dosis, frekuensi,
efek dan efek samping minum obat).
Rasional : Untuk memberi pemahaman kepada
lansia tentang obat
- Bantu menggunakan obat dengan prinsip 5 benar
(benar pasien, obat, dosis, cara, waktu).
Rasional : Prinsip 5 benar dapat memaksimalkan
fungsi obat secara efektif
- Anjurkan membicarakan efek dan efek samping yang
dirasakan.
Rasional : Menambah pengetahuan lansia tentang
efek – efek samping obat.
- Beri reinforcement positif bila menggunakan obat
dengan benar.
Rasional : Lansia merasa dirinya lebih berharga
BAB III
P E N U T U P
- A. Kesimpulan
Menurut
organisasi kesehatan adalah usia pertengahan (midlle age) kelompok usia45-70
tahun usia lanjut (elders) antara 60-70 tahun usia tua (old) antara 75-90thn
usia dangat tua(very old) diatas 90 tahun.
Menurut prof
koesmoto setyonegoro lanjut usia adalah orang yg berumur 65 tahun keatas.World
Health Organization (WHO) mengelompokkan usia lanjut sebagai berikut :
- Middle Aggge (45-59 tahun)
- Erderly (60-74 tahun)
- Old (75-90 tahun)
- Very old (> 91 tahun)
Faktor-faktor
yang mempengaruhi tua adalah herediter, nutrisi, status kesehatan, pengalaman
hidup, lingkungan, stres.
Aging proses
adalah suatu periode menarik diri yang tak terhindarkan dengan karakteristik
menurunnya interaksi antara lansia dengan orang lain di sekitarnya. Individu
diberi kesempatan untuk mempersiapkan dirinya menghadapi “ketidamampuan” dan
bahkan kematia (Cox, 1984).
- B. Saran
Asuhan
keperawatan pada lansia haruslah diakukan secara profesional dan komprehensip,
yaitu dengan memandang pada aspek boi-psiko-sosial-spiritual pada lansia. Aspek
psikologis pada lansia merupakan aspek yang tak kala penting dari aspek yang
lain, olehnya itu pelaksanaan asuhan keperawataan lansia dengan gangguan
psikososial harus dilakukan dengan sebaik-baiknya demi terciptanya lansia yang
sehat jasmani dan rohani.
Komentar
Posting Komentar